NIKMAT, TAPI…
Sudah merupakan suatu hal yang maklum, bahwa rumah adalah nikmat dari Alloh ta’ala
yang sangat besar. Kita merasakan sekian banyak manfaat dari nikmat
yang satu ini. Menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan, melindungi
dari marabahaya, sebagai tempat aktivitas keluarga, tempat pembinaan
anak dan lain-lain.
Namun, apabila kita cermati baik-baik
berbagai komponen sebuah rumah, maka akan tampak jelas, bahwa di balik
nikmat yang besar tersebut terdapat berbagai macam ujian keimanan yang
sangat dahsyat. (Ujian tersebut biasa disebut dengan FITNAH).
Hal ini sesungguhnya bukan suatu hal
mengherankan, karena sudah merupakan sunnatulloh bahwa kehidupan dan
kematian adalah ujian bagi kita. (Lihat: QS. Al-Mulk: 2).
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Dan ujian itupun beraneka ragam, mulai
dari kesulitan-kesulitan hidup, sampai kenikmatan dan kesenangan hidup.
(Cermati: QS. Al-Anbiyâ’: 35).
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
KENALILAH HAKIKAT NIKMAT; INSYAALLOH ANDA AKAN SELAMAT!
Dengan mengetahui hakikat sebuah nikmat, kita bisa mendapatkan berbagai manfaat. Di antaranya:
1. Kita akan mampu mensyukuri nikmat tersebut dengan cara yang benar.
2. Akan menghindarkan diri dari rasa
iri terhadap saudara atau teman kita, apabila mereka mendapatkan suatu
nikmat yang tidak kita dapatkan. Karena hakikatnya mereka sedang diuji
dengan ujian yang besar.
3. Menumbuhkan kesadaran dalam diri
kita, sehingga tidak terlena dengan segala bentuk kenikmatan yang kita
dapatkan, dan senantiasa waspada akan besarnya fitnah (ujian) di balik
kenikmatan tersebut.
APAKAH UJIAN ITU?
Mari kita cermati bersama komponen-komponen sebuah rumah, yang pada hakikatnya adalah ujian kehidupan:
1. Bangunan rumah, tanah pekarangan, kendaraan, hewan piaraan, dll yang merupakan HARTA.
Sebagaimana telah maklum bahwa harta adalah fitnah bagi seorang manusia. (Baca: QS. At-Taghâbun: 15).
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Rosululloh shollallohu’alaihiwasallam juga telah menerangkan pada kita, bahwa ujian umat ini terletak dalam harta.
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya setiap umat diuji, dan ujian umatku ini adalah dengan harta”. HR Tirmidzi dari Ka’ab bin ‘Iyadh rodhiyallahu’anhu dan isnadnya dinyatakan sahih oleh al-Hakim.
Bahkan diterangkan bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh fitnah harta sangat besar.
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
“Tidaklah marabahaya yang dialami
seekor kambing manakala diserang dua serigala yang kelaparan, lebih
parah dibandingkan marabahaya yang terjadi pada agama seseorang akibat
kerakusan dia terhadap harta dan kedudukan”. HR.Tirmidzi dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu’anhu. At-Tirmidzy menilai hadits ini hasan sahih.
2. Anak
Sebagaimana harta, anak pun juga fitnah
yang tidak kalah dahsyatnya bagi seorang muslim. (Lihat: QS.
At-Taghâbun: 15 dan QS. Al-A’râf: 190)
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
فَلَمَّا آَتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آَتَاهُمَا فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Rosululloh shollallohu’alaihiwasallam menerangkan bagaimana seorang anak bisa merubah sikap dan pola berpikir seseorang dalam sabdanya,
الْوَلَدُ مَحْزَنَةٌ مَجْبَنَةٌ مَجْهَلَةٌ مَبْخَلَةٌ
“Anak itu bisa menyebabkan seseorang menjadi sedih, pengecut, bodoh dan kikir”. HR.Thobaroni dari Khouloh binti Hakim dan dinyatakan shohih oleh al-Albany.
3. Istri
Istri pun merupakan ujian berat bagi
seseorang. Bahkan sebagian istri bisa menjadi musuh bagi suaminya.
(Cermati: QS. At- Taghâbun: 14).
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ
عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا
فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
BAGAIMANA SIKAP KITA?
Setelah mengetahui hakikat ini, bukan
berarti kita harus menjual rumah kita atau meninggalkannya. Juga bukan
pula kita harus menceraikan istri atau mengusir anak kita, tidak
mendidiknya atau bahkan tidak menikah dan tidak punya anak. Karena
sejatinya kita pun merupakan ujian yang berat bagi anak dan istri kita.
(Baca: QS. Al-Furqon: 20).
وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا
Namun langkah dan sikap yang tepat adalah: mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan benar dan memohon kepada Alloh ta’ala agar mengaruniakan kemudahan dan taufik dalam mendidik istri juga anak.
Penulis: Ustadz Zaid Susanto Driantoro, Lc.